Ayo..Menjadi Lebih Baik di Tahun 2012
Sebentar lagi, kita akan mengakhiri tahun 2011 dan menyongsong
tahun 2012. Meninggalkan segenap perbuatan yang telah diperbuat dengan sejuta
harapan dan permasalahan. Kadang memberi warna positif , kadang memberi
warna negatif. Seorang muslim yang jujur dengan komitmen keislamannya,
hendaknya dari waktu ke waktu berusaha meningkatkan derajat (value) dirinya,
terutama dalam keimanan dan ketaqwaan. Hari esok harus lebih baik dari sekarang
dan masa lalu.
Untuk menggapai tujuan ini, diperlukan sebuah sarana / washilah,
sebagai jembatan menuju yang lebih baik di tahun 2012. Kebaikan yang mencakup
keseluruhan aspek kehidupan; yakni ibadah, mendidik anak, berkah rumah tangga,
pendidikan, pekerjaan, dan urusan lainnya. Sarana /washilah itu bisa kita
uraikan sebagai berikut:
#1.
Menghadirkan Pengakuan Banyaknya Dosa
Kesalahan terbesar manusia
dalam hidupnya manakala ia merasa sudah banyak beramal, sempurna dan tidak
berdosa. Sikap ini tentunya harus dihindari, karena salah satu ciri seseorang
yang akan diwarisi surga baginya tatkala ia merasa kurang dan banyak
dosa. Rosululloh sebagai orang yang sempurna pun setiap harinya beristighfar
minimal 100 kali, ibadahnya luar biasa, bahkan kakinya bengkak karena sholat tahajud.
Merasa
banyak dosa dan memperbanyak istighfar merupakan salah satu cara menuju
kehidupan yang lebih baik di kemudian hari. Dengannya akan menjadi solusi
setiap permasalahan hidup. Saat seseorang mengadu problem hidupnya kepada imam
Hasan al-Basri, misalnya belum dikarunia anak, tanah kering karena tidak hujan,
dan lain-lain, sang imam selalu memberi solusi ‘perbanyaklah
istighfar!’. Kenapa sang imam memberi solusi itu? karena
Alloh-lah yang menyampaikan rumus tersebut, sebagaimana terdapat dalam QS Nuh
10-12.
“Maka
aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’,
sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan
anak-anakmu dan
mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di
dalamnya) untukmusungai-sungai’.
#2.
Membuka Diri Menerima Nasehat Orang Lain
Tidak akan maju seseorang
yang dalam hidupnya menutup diri dari nasehat orang lain. Biasanya kita kurang
cerdas mendeteksi atau mengevaluasi kekurangan diri sendiri dibandingkan orang
lain. Untuk itu, jadikanlah nasehat orang lain sebagai sarana untuk memacu diri
ke arah yang lebih baik.
Pentingnya
menerima nasehat orang lain untuk proses perbaikan diri, bisa kita lihat dari
beberapa kisah sahabat di zaman rosulullah. Salah seorang sahabat dipuji rosul
di hadapan sahabat lainnya dengan sebutan ‘hamba yang paling baik’. Hati
sahabat tersebut berbunga-bunga karena menerima pujian rosul. Namun rosul
melanjutkan perkatannya sebagai nasehat penting buat sahabat itu dengan
mengatakan, ‘Hamba terbaik kalau seandaikan
engkau rajin sholat tahajud’. Maka sejak saat itu, sahabat tidak
pernah meninggalkan tahajud, karena ia menerima nasehat rosul.
Begitu
pula saat seorang anak yang sedang makan dengan tangan kiri, rosul menasehati, “Wahai
anak, sebutlah Alloh, makanlah dengan tangan kanan, dan makan yang dekat
denganmu. Sang anak itu pun menerima nasehat nabi dengan tidak
melakukan kesalahan itu lagi di kemudian hari. Umar bin Khatab sangat
mengapresiasi orang yang memberi tahu kekurangan dirinya, “Sungguh
semoga Alloh memberi rahmat kepada yang menghadiahkan aku kekurangan”.
#3.
Menghadirkan Kerinduan Terhadap Lingkungan yang Baik
Sarana ketiga untuk menjadi
lebih baik adalah dengan menghadirkan lingkungan yang baik buat diri dan
keluarga. Seseorang tidak sholeh bukanlah karena ia tidak mau sholeh, namun
biasanya karena lingkungan yang tidak mendukung. Untuk itu menciptakan
lingkungan yang sholeh patut dilakukan oleh setiap individu.
Seorang ayah sangat berharap
anaknya menjadi anak yang sholeh. Namun jangan harap hal itu terwujud kalau
suasana rumah tidak kondusif menciptakan anak yang sholeh. Anaknya dibiarkan
saja menonton TV yang tidak mendidik, anak jauh dari alunan ayat
al-Quran, kurang mengenal sholat dan mesjid, serta menyekolahkan anak ke
institusi yang minim pendidikan islam.
#4.
Menyikap Permasalahan Secara Proporsional
Hidup
selalu dihadapkan dengan permasalahan. Dan adakalanya masalah akan kian banyak
dan runyam tatkala menyikapi permasalahan itu secara tidak proporsional.
Seorang bijak mengatakan, “Peraslah jeruk sehingga menjadi
minuman manis. Semula asam lalu dikasih gula, sehingga menjadi minuman yang
menyejukkan dan bermanfaat”.
Orang yang cerdas adalah
orang yang mampu mengubah kekalahan menjadi kemenangan, mengubah kesedihan
menjadi kebahagiaan, dan mengubah musibah menjadi keberkahan. Rosulullah diusir
untuk hijrah dari tempat kelahiran mekah, tidaklah disikapi sebagai sesuatu
kekalahan, namun sebagai sebuah kemenangan. Dengan hijrah, komunitas muslim
semakin kuat dan pada akhirnya mampu merebut kembali kota Mekkah. Begitu pula
banyak ulama-ulama besar, mereka bisa menghasilkan karya luar biasa untuk
peradaban manusia, saat mereka terkurung dalam penjara, terkungkung dalam sumur
tua, terusir dari kota kelahiran, bahkan ada yang lumpuh secara fisik.
Menghadapi tahun 2012, mari
kita kobarkan semangat dan cita-cita menuju kehidupan yang lebih baik buat
diri, keluarga dan orang-orang yang dicintai. Kalau tidak sekarang, mau
menunggu sampai kapan?. Bukankah kita selalu menyaksikan, betapa banyak orang
yang kita kenal dipanggil ke hadapan-Nya dengan beragam cara. Kematian bisa
datang kapan saja. Inilah momentum yang tepat untuk mengeavaluasi dan menata
hidup lebih baik di tahun mendatang. Menggapai hidup yang sesuai dengan
kehendak dan ridho Alloh, sehingga kita siap dipanggil kapan dan di mana saja.
“Dikutip
dari khutbah Jum’at, 24 Desember 2011, Mesjid Darussalam Kota Wisata Cibubur,
Narasumber: Ustadz
Ahmad Khusyairi Suhail, M.A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar